IHSG Anjlok Imbas Isu MSCI, Jasa Marga Siapkan Opsi Buyback Saham

IHSG Anjlok Imbas Isu MSCI, Jasa Marga Siapkan Opsi Buyback Saham
IHSG Anjlok Imbas Isu MSCI, Jasa Marga Siapkan Opsi Buyback Saham

Sorothari – 21 Oktober 2026 | Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok imbas tekanan isu reklasifikasi pasar modal oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menyisakan gejolak di lantai bursa. Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, PT Jasa Marga (Persero) Tbk membuka opsi untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback. Langkah ini disebut sebagai salah satu pertimbangan korporasi dalam menjaga nilai perusahaan di tengah ketidakpastian yang dipicu oleh ihsg anjlok msci.

Corporate Secretary & Chief Administration Officer Jasa Marga, Trias Andriyanto, menegaskan bahwa pihaknya masih mengkaji secara mendalam opsi buyback tersebut. Menurut dia, keputusan aksi korporasi tidak bisa diambil terburu-buru dan harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kebutuhan likuiditas serta rencana ekspansi operasional perusahaan.

Baca juga:
IHSG Anjlok 32,97% Sepanjang 2026, Sekuritas Sesuaikan Strategi Bisnis

“Evaluasi terhadap kemungkinan opsi buyback saham didasarkan pada kajian yang komprehensif dan menyeluruh demi menjaga fundamental Perseroan. Perseroan juga selalu mengutamakan prinsip kehati-hatian serta tata kelola perusahaan yang baik dalam setiap langkah aksi korporasi,” ujar Trias dalam keterangan tertulis pada Rabu (21/10).

Trias memastikan bahwa perseroan tetap menjaga struktur keuangan agar tetap stabil sehingga operasional jalan tol tidak terganggu. Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk memastikan fondasi keuangan perusahaan tetap kokoh di tengah gejolak pasar.

“Pendekatan ini penting guna memastikan struktur keuangan tetap kokoh dengan tetap selaras dalam menjaga operasional jalan tol,” imbuhnya.

Meski demikian, Jasa Marga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat fundamental bisnis, menjaga pertumbuhan kinerja keuangan, dan meningkatkan kualitas pelayanan. Perusahaan pengelola jalan tol terbesar di Indonesia itu ingin memastikan terciptanya nilai jangka panjang bagi para pemegang saham.

“Dengan dukungan jaringan jalan tol yang luas dan konektivitas yang terus berkembang, kami berkomitmen menjaga kinerja yang berkelanjutan, menerapkan tata kelola yang bertanggung jawab, serta menghadirkan nilai tambah bagi pemegang saham dan pelayanan yang semakin baik bagi pengguna jalan,” tutup Trias.

Tekanan MSCI dan Anjloknya IHSG

Gonjang-ganjing pasar modal Indonesia dipicu oleh pengumuman MSCI pada 16 Oktober lalu yang mempertimbangkan untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Keputusan resmi mengenai nasib pasar modal Indonesia dijadwalkan diumumkan pada Juni tahun depan. Ancaman ini langsung memicu aksi jual besar-besaran oleh investor asing.

Baca juga:
Saham TLKM Anjlok 6,84 Persen ke Rp1.770 saat IHSG Tembus Bawah 5.000

Pada perdagangan Jumat (16/10), IHSG tercatat anjlok sebesar 11,57 persen ke level 5.185,11. Kejatuhan indeks ini menjadi pukulan berat bagi kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia, terutama di momen dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Penurunan tajam tersebut tidak hanya merespons sorotan MSCI terhadap tata kelola pasar modal, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk arah kebijakan pemerintah dalam pengelolaan APBN, khususnya fiskal dan pelaksanaan program prioritas.

Meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengambil langkah strategis untuk memenuhi ekspektasi MSCI—antara lain menjatuhkan sanksi kepada sejumlah emiten bermasalah dan mengeluarkan 80 perusahaan dari perhitungan indeks—tekanan jual dari investor asing diperkirakan masih berlanjut. Hal ini sejalan dengan pernyataan Allspring Global Investments, perusahaan manajemen aset global asal Amerika Serikat.

Allspring menilai saham-saham perusahaan perbankan dan telekomunikasi Indonesia akan terus mengalami tekanan jual. Kedua sektor tersebut mewakili 80 persen dari indeks MSCI Indonesia. Sejak Januari lalu, ketika MSCI pertama kali mengancam menurunkan kasta Indonesia, saham-saham di dua sektor itu sudah anjlok 40 persen. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tercatat merosot hampir 50 persen, sementara saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) anjlok hingga 23 persen.

“Ironisnya adalah saham-saham yang dilepas gara-gara aksi MSCI ini adalah milik bank dan perusahaan telekomunikasi yang justru adalah perusahaan terbaik (di Indonesia),” kata Gary Tan, manajer portofolio pada Allspring, seperti dilansir dari Bloomberg, Rabu (21/10/2026).

Tan menambahkan bahwa perusahaan perbankan dan telekomunikasi Indonesia akan terus menghadapi tekanan jual karena para manajer investasi ingin mengurangi risiko menjelang keputusan MSCI pada Juni tahun depan. Meski sekitar 2,27 persen dari total dana kelolaannya diinvestasikan di Indonesia hingga September lalu, Allspring menyatakan akan terus memantau respons pemerintah Indonesia terhadap ancaman tersebut.

Tiga Skenario Pergerakan IHSG

Di tengah bayang-bayang tekanan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, memetakan potensi laju IHSG ke dalam tiga skenario utama. Menurut Ardy, terbentuknya gap down serta pelemahan mendalam hingga menembus support penting membuat posisi IHSG masih dalam kecenderungan bearish. Namun, penurunan dalam tersebut membuka peluang technical rebound.

Baca juga:
ADRO Jadi Rekomendasi di Tengah Tekanan IHSG, Asing Catat Net Sell Rp18,11 Miliar

“Penurunan yang dalam membuka peluang technical rebound, namun arah selanjutnya bergantung pada arus dana asing dan respons otoritas terhadap isu MSCI serta stabilitas harga minyak,” kata Ardy dalam analisisnya.

Pada skenario moderat, IHSG diproyeksikan bergerak mendatar untuk mencari titik terendah (bottoming) pada rentang 5.180 hingga 5.450. Pasar dinilai masih memerlukan waktu untuk mencerna sentimen isu MSCI. Meski demikian, aksi akumulasi beli bersih (net buy) investor asing pada saham BBCA yang mencapai Rp473,3 miliar dalam sepekan menjadi sinyal awal masuknya aksi bottom fishing. Dalam kondisi konsolidasi ini, pelaku pasar disarankan menunggu konfirmasi terbentuknya pola candle bullish yang disertai lonjakan volume di atas level 5.233.

Sementara itu, skenario optimis membuka peluang IHSG berbalik menguat (rebound) menuju target level 5.600, bahkan berpeluang menutup celah (gap) di kisaran 5.800-an. Skenario ini dapat terwujud jika BEI mampu menyampaikan klarifikasi yang meyakinkan kepada MSCI, OJK konsisten melanjutkan agenda reformasi pasar modal, serta harga minyak dunia berangsur stabil.

Di sisi lain, skenario pesimis membayangi apabila tekanan jual berlanjut hingga mendorong IHSG menembus support psikologis 5.000 menuju kisaran 4.950 hingga 5.000. Hingga saat ini, pasar masih menantikan langkah lanjutan dari otoritas dan respons emiten dalam menghadapi dampak ihsg anjlok msci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *