Saham BBCA Paling Banyak Dilepas Asing, Net Sell Rp621,42 Miliar saat IHSG Menguat

Saham BBCA Paling Banyak Dilepas Asing, Net Sell Rp621,42 Miliar saat IHSG Menguat
Saham BBCA Paling Banyak Dilepas Asing, Net Sell Rp621,42 Miliar saat IHSG Menguat

Sorothari – 23 Oktober 2026 | Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi sorotan pasar modal Indonesia. Pada perdagangan Kamis (22/10/2026), saham BBCA mencatat aksi jual bersih (net sell) asing sebesar Rp621,42 miliar, menjadikannya yang terbesar di antara saham-saham lain yang dilepas investor asing. Aksi jual ini terjadi meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,12% ke level 5.387,90. Harga saham BBCA sendiri turun 1,90% menjadi Rp5.175 per saham, dengan volume perdagangan mencapai 286,93 juta saham, frekuensi 57.866 kali, dan nilai transaksi Rp1,49 triliun.

Penurunan saham BBCA pada Kamis (22/10) berbalik arah setelah sehari sebelumnya, Rabu (21/10), saham bank swasta terbesar nasional itu mencatat net buy asing sebesar Rp448,09 miliar. Namun, secara umum, nasib saham BBCA memang tengah tertekan setelah pengumuman MSCI pada 16 Oktober 2026 terkait ancaman reklasifikasi pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market. Dalam periode 16-22 Oktober, saham BBCA mengalami net sell asing hingga Rp4,45 triliun, tertinggi di antara saham-saham lain. Setelah BBCA, saham BBRI mencatat net sell Rp2,91 triliun, BMRI Rp1,32 triliun, dan TLKM Rp610 miliar. Sejak penutupan 15 Oktober hingga 22 Oktober, harga saham emiten terafiliasi Grup Djarum ini anjlok 14,81%.

Baca juga:
ADRO Jadi Rekomendasi di Tengah Tekanan IHSG, Asing Catat Net Sell Rp18,11 Miliar

Meski demikian, BCA tidak tinggal diam. Perseroan mengumumkan program pembelian kembali (buyback) saham yang diperpanjang dari 19-21 Oktober menjadi 19-23 Oktober 2026. Aksi korporasi ini merupakan bagian dari buyback yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2026. Manajemen BCA menyatakan bahwa buyback ini merupakan lanjutan dari realisasi program serupa pada April dan Juni 2026, dan akan dijalankan dengan mematuhi prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) serta peraturan yang berlaku. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, saat dikonfirmasi pada Senin (19/10) mengatakan alokasi dana buyback bergantung pada kondisi pasar.

Program buyback ini mendapat respons positif dari pasar. Pada Rabu (21/10), saham BBCA ditutup menguat hampir 2% ke Rp5.275 dari penutupan Jumat (16/10) di Rp5.175. Sebelumnya, pada Senin (19/10), saham BBCA sempat menyentuh level psikologis Rp4.000, yang dinilai pasar sebagai koreksi berlebihan. Saham kemudian berbalik naik ke Rp4.820 pada penutupan Senin, Rp5.200 pada Selasa (20/10), dan Rp5.275 pada Rabu (21/10). Investor asing pun kembali memborong saham BBCA tepat saat pengumuman buyback, dengan net buy asing Rp448,1 miliar pada Rabu, tertinggi di pasar.

Baca juga:
IHSG Perpanjang Reli Delapan Hari, Simak Saham Net Sell Terbesar Asing di Awal Pekan

Tekanan Eksternal dan Prospek IHSG

Ancaman reklasifikasi MSCI masih menjadi bayang-bayang bagi pasar saham Indonesia. Keputusan MSCI yang diumumkan pada 16 Oktober 2026 berpotensi mengubah status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, yang dapat mengurangi aliran dana asing. Hal ini memicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk BBCA. Meski demikian, IHSG masih mampu menguat pada Kamis (22/10) meskipun investor asing melakukan net sell total Rp1,48 miliar di seluruh pasar.

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran support 5.250-5.300 dan resistance 5.400-5.450. Menurutnya, IHSG berpeluang menguji level resistance tersebut, namun jika gagal menembusnya, ada potensi koreksi kembali. Fanny juga merekomendasikan sejumlah saham untuk diperhatikan, seperti MEDC, MDKA, PACK, PTRO, INDY, dan HMSP. Sementara itu, riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebutkan bahwa secara teknikal IHSG masih volatil dan berhasil ditutup positif. Jika IHSG mampu menguji level 5.404, ada potensi lanjut ke resistance 5.38 (EMA10) dan 5.607-5.631. Namun, jika tekanan meningkat dan gagal breakout, IHSG bisa kembali ke support 5.185/5.012/4.999. Kiwoom menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dan menerapkan strategi buy on weakness secara selektif.

Baca juga:
Saham GOTO Jadi Primadona di Tengah Ambruknya IHSG, Asing Masih Net Buy Rp288 Miliar

Di tengah tekanan eksternal, langkah buyback BCA menjadi salah satu upaya untuk menopang harga saham. Namun, keberlanjutan penguatan saham BBCA masih akan bergantung pada sentimen global, terutama terkait keputusan MSCI dan arus dana asing. Investor disarankan untuk mencermati perkembangan tersebut sebelum mengambil keputusan investasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *