BBCA Hari Ini: Saham Melemah Saat IHSG Menguat, Laba Tumbuh 2,85 Persen

BBCA Hari Ini: Saham Melemah Saat IHSG Menguat, Laba Tumbuh 2,85 Persen
BBCA Hari Ini: Saham Melemah Saat IHSG Menguat, Laba Tumbuh 2,85 Persen

Sorothari – 24 Oktober 2026 | Perdagangan saham BBCA hari ini, Jumat, 23 Oktober 2026, menjadi salah satu sorotan di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saham PT Bank Central Asia Tbk itu melemah Rp50 atau 0,97 persen ke level Rp5.125 pada sesi pertama, meski indeks secara keseluruhan berhasil bertahan di zona hijau. Pelemahan BBCA sekaligus menjadikannya sebagai pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi negatif 4,580 poin.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan pergerakan IHSG yang ditutup menguat 65,23 poin atau 1,21 persen ke level 5.453,13. Indeks sempat dibuka pada posisi 5.397,34, lebih tinggi dari penutupan sebelumnya di 5.387,90, dan bergerak dalam rentang harian antara 5.366,29 hingga 5.455,21. Selisih antara level penutupan dan titik tertinggi hanya 2,08 poin, menandakan penguatan indeks terjaga hingga akhir sesi.

Baca juga:
BBRI Hari Ini: BRI Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun hingga Januari 2027

Meski BBCA hari ini menjadi penekan indeks, saham perbankan lain dan sejumlah emiten tambang justru menopang penguatan. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) memimpin dengan kenaikan Rp425 atau 4,01 persen ke Rp11.025, menyumbang 7,002 poin terhadap indeks. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik Rp140 atau 3,53 persen ke Rp4.090 dengan kontribusi 5,362 poin, sedangkan PT Astra International Tbk (ASII) menguat 2,81 persen ke Rp4.570.

Di sisi lain, saham SMMA turun 3,86 persen menjadi Rp19.725 dan DCII melemah 3,45 persen ke Rp181.000. Berdasarkan data awal perdagangan, mayoritas saham bergerak positif dengan 476 saham menguat, 147 melemah, dan 340 tidak berubah. Namun, data tersebut merupakan gambaran awal sesi dan belum tentu mencerminkan komposisi akhir perdagangan.

Buyback BBCA Diperpanjang hingga 23 Oktober 2026

Di tengah tekanan harga saham, PT Bank Central Asia Tbk mengumumkan perpanjangan periode buyback saham BBCA hingga 23 Oktober 2026. Sebelumnya, program tersebut dijadwalkan berakhir pada 21 Oktober 2026. Dengan perpanjangan ini, BCA melaksanakan pembelian kembali saham pada periode 19–23 Oktober 2026.

Langkah tersebut merupakan bagian dari program buyback yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 pada 12 Maret 2026. Program ini memiliki jangka waktu 12 bulan, terhitung sejak 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027, dan dapat berakhir lebih cepat sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca juga:
IHSG Perpanjang Reli Delapan Hari, Simak Saham Net Sell Terbesar Asing di Awal Pekan

Manajemen BCA dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2026, menyatakan bahwa buyback ini merupakan wujud keyakinan terhadap fundamental bisnis perseroan sekaligus untuk mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia. “BCA kembali melaksanakan program pembelian kembali saham perseroan pada tanggal 19-23 Oktober 2026. Durasi buyback tersebut telah diperpanjang dari sebelumnya diumumkan hanya dilaksanakan sampai tanggal 21 Oktober 2026,” ujar manajemen.

Aksi korporasi ini melanjutkan buyback yang sebelumnya telah dilakukan BCA pada April dan Juni 2026. Manajemen menegaskan bahwa pelaksanaan buyback tidak memberikan dampak material terhadap kinerja keuangan maupun kegiatan usaha perseroan. Meski demikian, dampak terhadap investor tetap perlu dicermati dengan memperhatikan harga pembelian, jumlah saham yang dibeli kembali, serta perkembangan kinerja keuangan perseroan.

Kinerja Laba dan Tekanan Jual Asing

Seiring dengan perpanjangan buyback, BBCA hari ini juga mencatatkan kinerja laba yang tumbuh 2,85 persen. Informasi tersebut menjadi salah satu faktor yang dianggap menunjukkan ketahanan fundamental perseroan di tengah kondisi pasar yang masih membutuhkan kestabilan. Meski demikian, pertumbuhan laba tidak serta-merta mendorong harga saham BBCA pada perdagangan hari ini.

Tekanan terhadap saham BBCA turut dipengaruhi oleh aksi jual bersih investor asing. Hingga sesi pertama, investor asing mencatatkan net foreign sell sebesar Rp744,43 miliar. Nilai pembelian asing mencapai Rp2,62 triliun, sedangkan penjualan sebesar Rp3,36 triliun. BBCA menjadi salah satu saham perbankan yang paling banyak dilepas asing, bersama dua saham perbankan lainnya, dengan total nilai penjualan mencapai Rp744,4 miliar.

Baca juga:
BMRI Buyback 91,75 Juta Saham dan Tebar Dividen Rp50,63 Triliun, Saham Perbankan Kompak Menguat

Volume perdagangan pada sesi pertama tercatat mencapai 20,5 miliar saham. Dari sisi pergerakan, sebanyak 512 saham menguat, 150 melemah, dan 256 tidak berubah. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun BBCA tertekan, secara keseluruhan pasar masih didominasi oleh saham-saham yang menguat.

Penguatan IHSG hari ini perlu dibaca secara hati-hati. Indeks merupakan gabungan dari berbagai saham dengan bobot berbeda, sehingga kenaikan indeks tidak selalu berarti seluruh saham mengalami kenaikan. Perubahan harga saham perbankan, pertambangan, dan perusahaan berkapitalisasi besar memberikan gambaran lebih rinci mengenai kekuatan pasar. Kenaikan 1,21 persen pada perdagangan Jumat menjadi perhatian pelaku pasar, tetapi belum cukup untuk memastikan apakah pasar telah memasuki tren pemulihan yang berkelanjutan.

Hingga penutupan, IHSG mampu bertahan di dekat puncak pergerakan hariannya. Sementara itu, saham BBCA hari ini ditutup melemah di level Rp5.125. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kelanjutan program buyback, respons pasar terhadap kinerja laba perseroan, serta arah arus modal asing dalam beberapa sesi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *