Sorothari – 24 Oktober 2026 | Saham BMRI (PT Bank Mandiri Tbk) menjadi sorotan pasar setelah mencatat penguatan signifikan di tengah aksi pembelian saham BUMN oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dan rilis kinerja keuangan kuartal III-2026 yang solid. Pada perdagangan Kamis (22/10/2026), saham BMRI ditutup naik 4,05% ke level Rp3.850 per saham, seiring dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 1,12% ke level 5.387,90.
Penguatan saham BMRI ini tidak terlepas dari masuknya Danantara ke pasar modal domestik. Langkah tersebut dinilai menjadi katalis positif bagi saham-saham BUMN, termasuk BMRI, BBRI, BBNI, TLKM, dan ANTM. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa kehadiran Danantara mampu memperbaiki sentimen pasar, meningkatkan kepercayaan investor, serta menambah permintaan terhadap saham BUMN yang memiliki valuasi menarik.
Baca juga:“Pembelian saham oleh Danantara perlu dilihat secara proporsional. Kehadiran institusi tersebut tidak otomatis mampu membalikkan tren pasar apabila tekanan jual asing masih besar,” kata Hendra di Jakarta, Jumat (23/10/2026). Ia menambahkan bahwa keberlanjutan penguatan saham tetap bergantung pada fundamental emiten, prospek laba, arus kas, serta kebijakan dividen.
Kinerja Keuangan Bank Mandiri Kuartal III-2026
Dari sisi fundamental, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba bersih secara bank only sebesar Rp45,5 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 20,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini sejalan dengan ekspansi kredit dan peningkatan pendapatan perseroan. Total aset konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp2.404,1 triliun, tumbuh 20,1% secara tahunan.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita W. Anggraini, menyatakan bahwa penyaluran kredit terus tumbuh dan diimbangi dengan peningkatan dana pihak ketiga (DPK). Hingga September 2026, kredit secara bank only mencapai Rp1.605,83 triliun, tumbuh 16% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 11,6%. Sementara itu, DPK meningkat 17,7% secara tahunan menjadi Rp1.750 triliun.
“Ke depan, pertumbuhan DPK tetap menjadi prioritas utama kami mengingat kondisi likuiditas yang cukup menantang,” ujar Novita dalam paparan kinerja Bank Mandiri kuartal III-2026, Jumat (23/10/2026).
Baca juga:Dari sisi likuiditas, rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) Bank Mandiri secara bank only tercatat 91,2%, lebih rendah dibandingkan posisi 92,6% pada periode yang sama tahun lalu. Kualitas kredit juga menunjukkan perbaikan dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) turun menjadi 0,98% dari 1,03% pada September 2025.
Menurut Hendra Wardana, saham BMRI memiliki daya tarik berkat bisnis perbankan yang relatif mapan dan basis nasabah luas. BMRI ditopang diversifikasi bisnis dan kemampuan menghasilkan laba. Meski demikian, investor perlu mencermati kualitas kredit, biaya dana, margin bunga bersih, serta valuasi saham.
Sentimen Pasar dan Rekomendasi
Penguatan IHSG pada Kamis (22/10/2026) juga tidak lepas dari perhatian investor terhadap kebijakan Bank Indonesia dan perkembangan isu klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa penguatan IHSG terjadi ketika pelaku pasar masih mencermati potensi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. Respons pasar terhadap pernyataan Presiden RI mengenai isu tersebut juga menjadi perhatian investor.
Di tengah ketidakpastian tersebut, saham-saham unggulan seperti BMRI, BBRI, dan TLKM menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai arah IHSG. Saham BBRI naik 3,20% ke Rp2.900, TLKM menguat 3,77% ke Rp2.200, dan BBNI naik 4,92% ke Rp3.410. ANTM juga menguat 4,41% ke Rp2.840.
Baca juga:Hendra memberikan rekomendasi trading buy untuk lima saham BUMN tersebut. Untuk saham BMRI, ia menargetkan harga Rp4.100, BBRI Rp3.100, dan BBNI Rp3.600. Namun, ia mengingatkan agar investor tidak terjebak euforia jangka pendek. “Investor perlu membedakan antara kenaikan yang didorong oleh sentimen dan kenaikan yang ditopang oleh perbaikan kinerja bisnis,” imbuhnya.
Ke depannya, aksi akumulasi saham yang diiringi peningkatan kinerja keuangan dan perbaikan tata kelola perusahaan akan menghasilkan penguatan harga yang lebih kokoh. Sebaliknya, jika penguatan hanya ditopang ekspektasi melambung atas kehadiran Danantara, harga saham berisiko kembali mengalami koreksi teknis saat minat beli mereda. Hingga saat ini, pasar masih menantikan kelanjutan aksi korporasi Danantara dan dampaknya terhadap pergerakan saham BMRI serta saham BUMN lainnya.












