Sorothari – 30 Oktober 2026 | Indeks acuan saham utama Eropa bergerak mixed pada penutupan perdagangan Kamis (29/10/2026) waktu setempat, dengan FTSE Mib di Bursa Milano menjadi salah satu indeks yang berhasil mempertahankan penguatan. Indeks yang menghimpun saham-saham berkapitalisasi besar di Piazza Affari itu ditutup naik 0,36% ke level 50.002 poin, sekaligus menandai posisi indeks di atas ambang psikologis 50.000. Penguatan FTSE Mib ditopang oleh lonjakan saham Prysmian dan Leonardo, sementara saham Campari justru tertekan tajam.
Kenaikan FTSE Mib sejalan dengan tren positif yang dialami mayoritas bursa utama Benua Biru. Indeks FTSE 100 di London juga ditutup menguat 0,26% ke 10.722,07 poin, sementara indeks saham menengah FTSE 250 naik 0,14%. Di sisi lain, bursa Frankfurt mencatat kenaikan terbesar, yakni 1,4%, disusul Paris yang tumbuh satu persen. Amsterdam menguat 0,6%, sedangkan Madrid menjadi satu-satunya bursa utama yang terkoreksi tipis 0,1%.
Baca juga:Keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) serta rilis sejumlah data makroekonomi dari Amerika Serikat tidak banyak mengubah sentimen investor. Pasar obligasi pemerintah Eropa juga relatif tenang setelah sempat bergejolak di tengah sesi. Spread antara yield obligasi pemerintah Italia (BTP) dan Jerman (Bund) tenor 10 tahun ditutup di level 114 basis poin, turun tipis dari 115 basis poin pada pembukaan. Adapun yield BTP 10 tahun berada di kisaran 4,49%.
Prysmian dan Leonardo Jadi Motor Penggerak
Di jajaran saham unggulan Piazza Affari, Prysmian tampil sebagai bintang setelah laporan keuangan kuartalannya mendapat respons positif dari pelaku pasar. Saham produsen kabel asal Italia itu memimpin penguatan indeks. Leonardo turut mencuri perhatian dengan kenaikan 3,9%, menambah tenaga bagi FTSE Mib.
Sebaliknya, Campari menjadi beban terbesar setelah ambles 6,6% pada perdagangan hari itu. Penurunan itu terjadi setelah perusahaan minuman asal Italia tersebut merilis laporan keuangan yang mengecewakan pada hari sebelumnya. Aksi jual pada saham Campari memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih selektif merespons kinerja emiten di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di pasar komoditas, harga energi tercatat melemah. Kontrak berjangka gas alam dengan pengiriman November di bursa Amsterdam turun 2,1% menjadi 98,6 euro per megawatt jam. Harga minyak juga terkoreksi 1,3% ke level 101 dolar AS per barel, sejalan dengan pelemahan yang juga terlihat di bursa New York.
Baca juga:FTSE 100 London Ditopang Lonjakan Shell
Di London, indeks FTSE 100 naik tipis 0,26% ke 10.722,07 poin, terutama berkat saham raksasa energi Shell yang melonjak 2,1%. Shell melaporkan laba kuartalan tertinggi sejak 2022 dan mengumumkan peningkatan program pembelian kembali saham (buyback). Sektor energi secara keseluruhan menguat hampir 1,64% meski harga minyak sedang turun.
Namun, penguatan FTSE 100 tertahan oleh anjloknya saham Haleon sekitar 15%, penurunan harian terburuk sejak perusahaan itu melantai di bursa empat tahun lalu. Perusahaan kesehatan konsumen tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan organiknya. Menurut laporan eksklusif kantor berita Reuters, CEO Haleon Brian McNamara memperingatkan staf tentang “pilihan-pilihan sulit” yang akan dihadapi setelah kinerja penjualan yang mengecewakan. Aksi jual Haleon menyeret sektor farmasi turun 0,46%, terlebih setelah hasil kinerja GSK pada Rabu juga mengecewakan. Sektor perbankan ikut membatasi kenaikan indeks, dengan saham Lloyds Banking Group turun 5% akibat kinerja kuartal ketiga yang lesu.
FTSE Russell dan Sorotan terhadap Vietnam
Di kawasan Asia Tenggara, nama FTSE kembali mencuat. FTSE Russell, penyedia indeks global yang berbasis di London, menilai bahwa keputusan memasukkan Vietnam ke dalam kelompok pasar negara berkembang sekunder (secondary emerging market) telah menempatkan negara tersebut pada “radar” komunitas investor internasional yang lebih luas. Hal itu disampaikan menjelang Forum Pasar Modal Vietnam 2026 yang digelar di Kota Ho Chi Minh pada 30 Oktober 2026.
Wanming Du, Direktur Kebijakan Indeks Kawasan Asia-Pasifik FTSE Russell, mengatakan bahwa nilai dari peningkatan status pasar tidak hanya terletak pada potensi aliran modal jangka pendek, tetapi juga pada perubahan cara pandang investor global dalam menilai dan membandingkan pasar Vietnam. “Selama bertahun-tahun, Vietnam berada dalam kategori pasar frontier. Beralih ke pasar berkembang sekunder membawa Vietnam ke tingkat persaingan yang berbeda, dengan jangkauan yang lebih luas terhadap investor institusi global,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip dari laporan media.
Baca juga:Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa FTSE Russell, yang juga mengelola FTSE 100 dan FTSE Mib melalui kerja sama dengan Borsa Italiana, memainkan peran penting dalam menentukan persepsi investor terhadap pasar negara berkembang. Bagi Vietnam, status baru itu diharapkan memperbesar peluang masuknya dana asing, meski tetap disertai tuntutan perbaikan tata kelola pasar dan transparansi.
Prospek Pasar ke Depan
Secara keseluruhan, pergerakan bursa Eropa pada Kamis menunjukkan bahwa investor masih mencerna kombinasi antara kebijakan moneter ECB dan data ekonomi Amerika Serikat. Meski tidak ada kejutan besar, penguatan FTSE Mib ke atas 50.000 poin menjadi sinyal bahwa minat terhadap saham-saham Italia tetap terjaga, terutama pada emiten yang mencatat kinerja keuangan solid seperti Prysmian dan Leonardo.
Ke depan, pelaku pasar akan memantau rilis data ekonomi lanjutan serta perkembangan musim laporan keuangan kuartal ketiga. Bagi investor global, dinamika FTSE Mib dan FTSE 100 akan tetap menjadi barometer penting untuk mengukur arah pasar saham Eropa, sementara keputusan FTSE Russell terkait Vietnam menjadi cerminan bagaimana indeks global dapat memengaruhi aliran modal lintas negara.












