Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III-2026 Capai 5,47%, Lampaui Ekspektasi Pasar

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III-2026 Capai 5,47%, Lampaui Ekspektasi Pasar
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III-2026 Capai 5,47%, Lampaui Ekspektasi Pasar

Sorothari – 08 November 2026 | Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 tercatat sebesar 5,47% secara tahunan (year on year/yoy), melampaui konsensus pasar dan menjadi sinyal positif di tengah perlambatan ekonomi global. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka tersebut pada Kamis (5/11/2026) di Jakarta, dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.741 triliun dan atas dasar harga konstan Rp3.633,2 triliun.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian kuartal II-2026 sebesar 5,29% dan kuartal III-2025 yang tercatat 5,04%. Secara kuartalan (quarter to quarter/qtq), ekonomi Indonesia tumbuh 1,59%, sejalan dengan pola musiman yang biasanya lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya. Secara kumulatif Januari–September 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45%, melampaui target APBN 2026 sebesar 5,4%.

Baca juga:
Prediksi IHSG Hari Ini: Berpeluang Lanjut Menguat di Tengah Sentimen Global

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menyatakan bahwa capaian ini jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu. “Year on year tumbuh 5,47%,” ujarnya dalam konferensi pers.

Melampaui Proyeksi Ekonom

Realisasi 5,47% melampaui perkiraan sejumlah lembaga. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 15 lembaga memperkirakan pertumbuhan hanya 5,20% yoy, sementara jajak pendapat lain memproyeksikan 5,18%. Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman, sebelumnya memperkirakan perlambatan akibat melemahnya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Senada, Kepala Ekonom BCA, David E. Sumual, memproyeksikan pertumbuhan di kisaran 5,15–5,20% dengan ekspor dan manufaktur sebagai penopang.

Namun, data BPS menunjukkan sebaliknya. Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, menilai permintaan domestik pada kuartal III-2026 bergerak lebih kuat dari perkiraan, sementara tekanan dari sektor eksternal berkurang.

Mesin Pertumbuhan: Konsumsi Pemerintah dan Rumah Tangga

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa lonjakan konsumsi pemerintah menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan. Konsumsi pemerintah tumbuh 8,95% yoy, meningkat signifikan dibanding periode sama tahun lalu sebesar 5,66%. “Pada dua kuartal ini, yakni triwulan II dan III, belanja pemerintah ditingkatkan. Belanja tersebut menjadi bagian dari konsumsi melalui program-program unggulan pemerintah, termasuk MBG dan KDKMP,” kata Airlangga, Sabtu (7/11/2026).

Baca juga:
Dinamika Pasar Modal dan Hukum: Dari Persiapan IPO Anthropic hingga Perilaku Investor Ritel

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang dominan dengan kontribusi 51,97% terhadap PDB, tumbuh 5,04% atau relatif stabil dibanding kuartal II-2026 sebesar 5,06%. Dari sisi eksternal, ekspor barang dan jasa tumbuh 4,59%, naik dari 4,13% pada kuartal sebelumnya, didorong kenaikan ekspor kelapa sawit dan kunjungan wisatawan mancanegara. Impor melambat menjadi 7,31%. Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,06%, ditopang peningkatan komponen kendaraan bermotor serta realisasi investasi pemerintah dan swasta.

Seluruh Sektor dan Wilayah Tumbuh Positif

Dari sisi produksi, seluruh 21 kategori lapangan usaha mencatat pertumbuhan positif. Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 11,22%, industri pengolahan 5,87%, dan perdagangan 7,14%. Lima sektor utama—industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan—menyumbang sekitar 65,31% dari total PDB nasional.

Secara spasial, seluruh wilayah Indonesia juga tumbuh positif: Jawa 5,84%, Sumatra 4,95%, Bali dan Nusa Tenggara 6,08%, Kalimantan 3,96%, Sulawesi 5,68%, serta Maluku dan Papua 4,42%.

Daya Saing Global dan Target Pemerintah

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47% tercatat lebih tinggi dibanding China (4,5%), Amerika Serikat (2,1%), Malaysia (5,3%), Singapura (5,4%), dan Korea Selatan (3,4%). Pemerintah menargetkan pertumbuhan year to date 5,4% pada 2026 dan optimistis kuartal IV-2026 mendekati capaian kuartal III. “Untuk Q4 pemerintah tetap menargetkan secara year to date 5,4%. Jadi kira-kira targetnya hampir sama dengan apa yang dicapai di Q3,” ujar Airlangga.

Baca juga:
BEI Masukkan Metropolitan Kentjana ke Daftar Saham Konsentrasi Kepemilikan Tinggi

Untuk menjaga momentum, pemerintah akan mendorong konsumsi masyarakat melalui stimulus menjelang Natal dan Tahun Baru, meningkatkan belanja negara lewat program MBG dan KDKMP, serta mendorong investasi dan ekspor. Pemerintah juga menyiapkan insentif PPN ditanggung pemerintah (PPN DTP) 100% untuk tiket pesawat kelas ekonomi domestik pada 22 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027, dengan target 3,75 juta penumpang. Selain itu, regulasi yang menghambat ekspor sedang dievaluasi. “Arahan Bapak Presiden adalah mempermudah ekspor dan kita sedang mempersiapkan kebijakan kemudahan impor untuk tujuan ekspor,” pungkas Airlangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *