Sorothari – 05 November 2026 | Hasil pemilu Amerika Serikat 2026 atau pemilu sela (midterm) yang digelar pada Selasa, 3 November 2026, mencatat perubahan besar dalam peta politik Negeri Paman Sam. Partai Demokrat berhasil merebut kendali atas DPR dan Senat, sebuah pukulan telak bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik. Kemenangan ini tidak hanya mengubah komposisi Kongres, tetapi juga menghadirkan sejumlah catatan sejarah baru dalam perpolitikan Amerika Serikat.
Menurut proyeksi yang dilaporkan sejumlah media internasional, Demokrat mampu memanfaatkan ketidakpuasan publik terhadap Trump yang mencapai rekor tertinggi. Hasil jajak pendapat pemilih menunjukkan lebih dari enam dari setiap 10 pemilih tidak menyetujui kinerja Trump, dan lebih dari separuh responden menyatakan sangat tidak puas. Perubahan kendali Kongres ini menutup periode politik yang berlangsung cepat selama 22 bulan terakhir, di mana Trump memperluas penggunaan kekuasaan eksekutif dengan dukungan Kongres yang dikuasai Partai Republik.
Baca juga:Dalam 50 tahun terakhir, perubahan kendali atas DPR dan Senat secara bersamaan dalam satu siklus pemilu hanya terjadi dua kali. Kini, Demokrat memiliki kekuatan lebih besar untuk mengawasi kebijakan pemerintahan Trump dalam dua tahun terakhir masa jabatannya. Sejumlah faktor diduga berkontribusi terhadap kekalahan Partai Republik, mulai dari inflasi, kebijakan tarif Trump, perang dengan Iran, hingga kekhawatiran pemilih terhadap perilaku presiden dan upayanya memperkaya diri.
Kemenangan Bersejarah di Berbagai Negara Bagian
Demokrat bahkan berhasil menembus wilayah-wilayah yang selama ini menjadi basis kuat Partai Republik. Mereka memenangkan sejumlah pemilihan yang selama puluhan tahun sulit dimenangkan, termasuk kursi Senat di South Carolina, negara bagian yang dimenangkan Trump dengan selisih 18 poin pada Pilpres 2024. Kemenangan juga diraih di Texas, yang belum pernah memilih kandidat Demokrat untuk jabatan tingkat negara bagian sejak 1994. Demokrat bahkan berhasil menembus Kansas, yang terakhir kali memilih senator dari partai tersebut pada 1932. Selain itu, mereka mengamankan kemenangan di Ohio dan Iowa.
Selain kemenangan di tingkat negara bagian, sejumlah kandidat dari kelompok masyarakat yang selama ini minim keterwakilan berhasil mencetak sejarah. Di Georgia, kandidat Demokrat Keisha Lance Bottoms memenangkan pemilihan gubernur dan menjadi perempuan kulit hitam pertama yang terpilih memimpin negara bagian tersebut. Mantan Wali Kota Atlanta itu mengungguli Rick Jackson, seorang miliarder di industri layanan kesehatan. Kemenangan Bottoms sekaligus mengakhiri dominasi Partai Republik atas kursi gubernur Georgia yang telah berlangsung lebih dari 20 tahun.
Baca juga:Catatan sejarah lainnya datang dari New Hampshire. Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Chris Pappas, memenangkan pemilihan Senat dan menjadi pria gay pertama yang secara terbuka terpilih sebagai senator Amerika Serikat. Pappas telah menduduki kursi DPR sejak 2019. Melalui pernyataan di situs pribadinya, ia menekankan pentingnya kesetaraan serta perlindungan setiap warga negara dari perlakuan diskriminatif.
Kepala Strategi organisasi nirlaba State Voices, Bill Shiebler, menggambarkan hasil pemilu tersebut sebagai penolakan besar terhadap kebencian dan perpecahan. Menurutnya, para pemilih semakin melihat diri mereka tercermin dalam sosok pemimpin yang mereka pilih, termasuk dari komunitas yang kini mereka wakili. Ia menilai hal ini merupakan bagian dari demokrasi multirasial yang berjalan sebagaimana mestinya.
Reaksi Iran dan Tanggapan Trump
Hasil pemilu Amerika Serikat ini juga mendapat perhatian dari Iran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai hasil pemilu sela AS menunjukkan bahwa rakyat Amerika menegaskan sikap untuk menolak perang. Dalam pernyataan via media sosial X, ia mengatakan, “Demi hati nurani atau karena biaya hidup, rakyat Amerika mengatakan NO TO WAR (TIDAK PADA PERANG), dan kami mendukung pesan ini.” Ghalibaf yang juga kepala perunding Iran dalam negosiasi damai dengan AS menambahkan bahwa jika pemerintah AS mengkhianati kehendak rakyatnya sendiri demi melayani pihak asing yang membayar dan memeras mereka, maka mereka akan menyadari bahwa kata TIDAK akan berujung pada mimpi buruk.
Baca juga:Perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan skala besar AS dan sekutunya Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu telah mengalami kebuntuan selama berbulan-bulan. Sesekali aksi saling serang dilancarkan kedua negara, di tengah kekhawatiran akan kembali berlanjutnya pertempuran besar-besaran. Trump dalam tanggapannya secara tak diduga mengucapkan selamat kepada Partai Demokrat dan melontarkan pujian yang langka untuk rivalnya tersebut. Ia juga mengakui bahwa konflik melawan Iran yang berlarut-larut turut mempengaruhi hasil pemilu sela ini. “Saya pikir salah satu faktornya adalah Iran, tetapi di sisi lain, rakyat juga memahami pentingnya langkah-langkah yang telah saya ambil terkait Iran,” kata Trump dalam wawancara dengan media AS Fox News.
Dengan hasil ini, Partai Demokrat kini menguasai DPR dan Senat, memberi mereka kendali penuh atas Kongres. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa pemerintahan Trump akan menghadapi pengawasan yang lebih ketat dari oposisi dalam dua tahun terakhir masa jabatannya. Publik Amerika dan dunia internasional kini menantikan langkah-langkah politik selanjutnya dari kedua belah pihak.












